KayRhen. LifeStyle Blog

Menghadirkan Gaya Hidup yang Unik dan Inspiratif! Dari Fashion hits, Beauty Hacks, hingga rekomendasi kuliner yang anti-mainstream, semuanya ada di sini.

beauty, lifestyle, fashion

Jumlah Sebutan Allah dalam Al Qur'an




Sebutan Allah di dalam al-qur'an berjumlah 2799 kali mulai dengan menerangkan tentang ke-Esaan Tuhan dan mengakhiri dengan ke-Esaan Tuhan pula. Ayat-ayat yang mengenal keesaan Tuhan antara lain terdapat di surat 7 Al A'raf ayat 59


QS 7.Al-A'rāf : 59

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat)."

Ayat-ayat yang bunyinya demikian terdapat pula di ayat 65, 73, 85 surat 7 Al-A'raf.


QS 7.Al-A'rāf : 65

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) Hud, saudara mereka. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Maka, mengapa kamu tidak bertakwa?"


QS 7.Al-A'rāf : 73

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan kepada kaum tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di Bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih."

Ayat-ayat yang bunyinya hampir sama terdapat dalam surat 11 Hud ayat 26, 50, 61 dan 84 masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung ajaran tentang keEsaan Tuhan bahwa ajaran tentang keEsaan Tuhan telah diberikan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w dapat dibuktikan dengan ayat 25 surat 21 Al Anbiya.

Diantara sifat-sifat Allah yang banyak disebut dalam Al-Qur'an adalah "Rabb" yang berarti yang memiliki, mendidik dan memelihara yang dalam Al-Qur'an terdapat sampai 967 kali.

Yang juga banyak disebut dalam Al-Qur'an sampai 560 kali adalah sifat "Rohman" dan "Rohim" (Maha Pemurah dan Maha Penyayang) Juga juga "Ghofur" (maha pengampun) tersebut dalam Al-Qur'an sampai 233 kali.

Sifat yang keempat Ia juga kerap kali disebut dalam Al Qur'an adalah "Malik" (yang menguasai, yang memiliki) atau "mim" dipendekkan bacaannya berarti "Raja".




Di dalam ajaran Islam, sangat di sarankan membaca ayat suci Al qur'an dengan bersuara karena sudah dijelaskan dalam QS 96. Al 'Alaq: 1. Pada ayat 1 disebutkan Iqra yang berarti bacalah, bukan bergumam, atau mengucap tampa suara apalagi membaca dalam hati ! Karena membaca Al Qur'an dengan bersuara akan memberikan pengaruh yang luar biasa pada sel-sel otak.

Bacalah dengan bersuara minimal di dengar oleh telinga sendiri karena setiap sel dalam tubuh manusia bergetar, potensi getaran sekecil apapun akan menimbulkan potensi menyembuhkan penyakit.

Pada tahun 2017 Dr Ahmed Al-Qadhi melakukan survey di salah satu klinik yang berlokasi di Florida, Amerika bahwa hanya dengan mendengarkan ayat suci al Qur'an bisa menyembuhkan dan menangkal penyakit. Hal ini dikuatkan lagi oleh Penemuan Muhammad Salim yang di publikasikan di Universitas Boston.

"Sel-sel yang rusak ini harus di getarkan kembali untuk mengembalikan keseimbangannya" Hal ini di sebutkan Muhammad Salim dalam penelitiannya. Bacalah Al Qur'an dengan keyakinan dan tawakal agar bisa mengambil dan mendapatkan manfaatnya.


Source:
Al Qur'an terjemahan Bahasa Indonesia - Khadim al Haramain asy Syarifain (Pelayan kedua tanah suci) Raja Fahd ibn'Abd al'Aziz Al Sa'ud.

Ilmu Kalam

Persoalan aqidah (keyakinan) di masa sahabat sahabat dan tabi'in adalah soal yang sudah tetap dan jelas berdasarkan kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Antara mereka tidak ada perselisihan pendapat dalam persoalan ini meskipun di dalam Al-Qur'an

Ilmu Kalam 

Persoalan aqidah (keyakinan) di masa sahabat sahabat dan tabi'in adalah soal yang sudah tetap dan jelas berdasarkan kepada Al-Qur'an dan Sunnah.  Antara mereka tidak ada perselisihan pendapat dalam persoalan ini meskipun di dalam Al-Qur'an terdapat beberapa ayat yang mutasyaabih, mereka tidak mempersoalkannya karena khawatir bila ayat-ayat itu ditakwilkan menurut pendapat mereka masing-masing akan membawa kepada perselisihan, dan mungkin menimbulkan perpecahan antara mereka sendiri. 


Tetapi setelah agama Islam dianut oleh umat-umat yang dahulunya menganut bermacam-macam agama dan madzhab mereka tak mau menerima sesuatu aqidah, kecuali setelah diperdebatkan dan diperbandingkan dengan Aqidah mereka yang lama, maka terpaksalah ulama Islam melayani mereka dengan dalil-dalil dan hujah-hujah sesuai dengan cara-cara mereka berpikir. Hal ini mendapat sokongan dan bantuan dari khalifah-khalifah diantaranya Khalifah Al Mahdi yang mendorong ulama menulis dan menyusun Ilmu Kalam.


Akhirnya dalam ilmu kalam ini timbullah dua golongan yang terbesar, golongan pertama ialah golongan Al jamaah dan golongan kedua ialah golongan Mu'tazilah yang berbeda pendapat dengan golongan yang pertama. Dalam beberapa masalah golongan yang ke-2 ini dipelopori oleh Washil bin Atha. Madzhab ini disokong dan dianut oleh pemimpin-pemimpin pemerintahan Abbasiyah.


Kemudian muncullah Abul Hasan Al Asy'ari lahir di Basra 837 M, wafat di Baghdad 935 M, yang berusaha mengkompromikan mazdhab Al Jama'ah dengan mazdhab Mu'tazilah dan dia dapat mengemukakan suatu mazdhab baru yang kemudian dinamai mazdhab Al-Asy'ari, selain dari itu ada lagi mazdhab yang lain seperti mazdhab Syi'ah, Khawarij, Ibadiyah dan lain-lain.


Al Qur'an terjemahan Bahasa Indonesia - Khadim al Haramain asy Syarifain (Pelayan kedua tanah suci) Raja Fahd ibn'Abd al'Aziz Al Sa'ud.

Ilmu Nahwu dan Sharaf

Ilmu Nahwu dan Sharaf


Pada mulanya bahasa Arab dapat bertahan dengan kuat terhadap kemunduran yang mulai terasa pada akhir-akhir masa Bani Umaiyah,  karena tampuk pemerintahan, seperti jabatan Panglima-panglima, gubernur gubernur dan kedudukan-kedudukan penting lainnya masih dipegang oleh orang Arab, yang bahasanya tetap bahasa (fasih) murni lebih lagi mereka amat fanatik terhadap bangsa dan bahasanya.

Di masa itu seseorang pemimpin yang menyimpang dari tata bahasa yang fasih, walaupun sedikit saja sudah dianggap rendah dan tercela. Tiap-tiap pemimpin baik ia pemimpin politik maupun  pemimpin perang atau Pemimpin sosial,  semenjak dari khalifah sampai kepada kepala daerah, adalah orang-orang yang ahli dalam bahasa, cakap berpidato dan dapat mengkritik kasidah-kasidah yang diucapkan di hadapannya.

Kefasihan dan ketinggian mutu bahasa ini bukan saja dimiliki oleh para pemimpin tetapi juga dimiliki oleh umumnya bangsa Arab, karena perasaan bangga terhadap keturunan dan nasab serta perasaan bahwa mereka adalah golongan yang tertinggi dan teristimewa, sangat mendalam dalam jiwa mereka (meskipun sifat ini bertentangan dengan prinsip agama Islam) sehingga mereka enggan bergaul dengan orang yang bukan bangsa Arab dan merasa rendah bila ikut bekerja bersama-sama Orang 'Ajam (bukan bangsa Arab).

Di antara orang-orang Arab itu jarang sekali yang mau bertani, bertukang, berternak dan sebagainya dengan demikian bahasa Arab dapat terpelihara kemurniannya, karena percakapan-percakapan diantara orang-orang Arab tidak dapat tidak dipengaruhi oleh kelemahan dan kekurangan mutu bahasa yang dipakai sehari-hari oleh orang asing (Azam) itu. Tetapi karena berdirinya Kerajaan Bani Abbas boleh boleh dikatakan atas bantuan dan dukungan orang-orang Persia terutama atas bantuan Abu Muslim Al Khurasani, maka sebagai balas jasa, di serahkan lah kepada mereka beberapa jabatan yang penting dalam negara. Dan dengan berangsur-angsur bertambah banyaklah di antara mereka yang menduduki posisi-posisi yang tinggi seperti menjadi Gubernur, Panglima dan Menteri.

Makin lama bertambah naik nama dan kedudukan mereka, dan dengan sendirinya mengurangi kedudukan orang Arab. Akhirnya tidak sampai satu abad semenjak berdirinya Kerajaan Bani Abbas, semua kedudukan yang penting, kecuali pangkat Khalifah, telah dipegang oleh orang Persia. Oleh karena itu ia memegang kekuasaan bukan orang Arab lagi, maka hilanglah perasaan bangga terhadap Nasab dan keturunan, atau perasaan bahwa mereka adalah golongan yang tinggi dan mulia. Kalau dahulu mereka enggan bekerja sebagai petani, peternak dan tukang, sekarang mereka telah memasuki semua lapangan pekerjaan,  bahkan banyak diantara wanita Arab yang kawin dengan peranakan Arab-Persia bahkan, ada yang kawin dengan orang-orang Persia sendiri.

Dengan berasimilasi nya orang-orang Arab ke dalam masyarakat Persia mulailah bahasa Arab mengalami kemunduran apalagi pemimpin-pemimpin yang berkuasa bukan orang Arab sehingga timbullah bahasa pasar yang tidak dapat dianggap sebagai bahasa Arab yang murni seperti yang terjadi di Mesir dan Damaskus.

Hal ini menimbulkan kesadaran para ulama dan ahli bahasa Arab sehingga mereka bangun serentak untuk mempertahankan bahasa Arab dari keutuhannya. Dengan rusaknya bahasa Arab tentu tidak akan ada lagi yang dapat memahami Al Qur'anul Karim. Sedangkan Al Qur'an itu adalah kitab suci yang harus selalu dipelihara dan diperdalam isi dan maknanya, karena itu mereka merasa bahwa di atas pundak merekalah terletak kewajiban untuk memelihara Al Qur'an dengan jalan mempertahankan kemurniaan bahasa Arab.

Untuk itu mereka telah mengarang Ilmu Nahwu (gramatika bahasa Arab) agar bahasa Arab itu dapat dipelajari dengan baik oleh umat yang tidak berbahasa Arab, sehingga mereka terhindar dari kesalahan kesalahan pengucapan dan dapat membaca dengan fasih.

Ilmu ini telah dirintis penyusunannya, mula-mula oleh Abul Aswad Ad Duali, atas nasehat Ali Bin Abi Thalib. Kemudian ilmu ini berkembang di Basrah dan menjadi luas pembahasannya sehingga banyak ulama ulama atau ahli-ahli bahasa yang mengarang kitab kitab Nahwu, diantara pengarang-pengarang kitab Nahwu adalah Abu Ishaq Al Hadrami yang wafat tahun 117 H., Isa bin Umar yang wafat tahun 149 H. Pengarang kitab Al Jaami' dan Al Ikmal:  Al Khalil bin Ahmad, Sibawaihi, Abu Amir bin Al'ala' yang wafat tahun 154 H dan Al-Ahfasy, murid Sibawaihi.

Ilmu Nahwu ini berkembang pula di Kufah yang dipelopori oleh Mu'adz Al-Harra', Abu Ja'far Ar Ruasi dan kedua murid-muridnya Al Kisai dan Al-Farah, sehingga terjadilah 2 aliran dalam ilmu Nahwu ini yaitu aliran Basrah dan aliran Kufah.  Akhirnya kedua aliran ini bertemu di Baghdad pusat pemerintahan Abbasiyah,  masing-masing dibahas oleh Ibnu Qutai'bah dan Hanifah Al Dinauari.


Source: Al Qur'an terjemahan Bahasa Indonesia - Khadim al Haramain asy Syarifain (Pelayan kedua tanah suci) Raja Fahd ibn'Abd al'Aziz Al Sa'ud hal 94.

Nabi Isa a.s. untuk suatu Kaum

Dan sebagai rasul kepada Bani Israil (dia berkata), "Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah.

Nabi Isa a.s. diutus untuk sesuatu kaum tertentu


Dalam Al Qur'an Surat 3 - Ali Imran Ayat 49 dinyatakan:

QS.3 - Āli 'Imrān : 49


وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ


Dan sebagai rasul kepada Bani Israil (dia berkata), "Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beri tahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman.


....وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ


Dan sebagai rasul kepada Bani Israil... 


Hal ini di buktikan juga oleh ayat-ayat dalam Injil:

Maka kata Daud kepada Abigail: Segala Puji bagi Tuhan Allah orang Israil, sebab di suruhkannya engkau mendapatkan aku pada hari ini (I Samuel 25:32).

Dan lagi titah baginda demikian: Segala puji bagi Tuhan Allah orang Israil, yang mengaruniakan pada hari ini seorang yang duduk diatas takhta kerajaanku, sehingga mataku sendiri telah melihatnya (I Raja-raja 1:48).

Segala puji bagi Tuhan Allah orang Israil, daripada kekal datang kepada kekal, maka hendaknya segenap orang banyak mengatakan Amin Segala puji bagi Tuhan (I Kitab Taraweh 16:26).

Maka kata baginda: Segala puji bagi Tuhan Allah orang Israil, yang telah berfirman dengan mulutnya kepada ayahku Daud, dan yang sudah menyampaikan dia dengan tangannya, firmannya (I Kitab Taraweh 6:4).

Yesus juga menganggap dirinya sebagai Nabi bagi Bani Israil, apabila ada orang lain mendekati dia maka ia mengusirnya. Dalam Matius XV: 21 - 26, orang dapat membaca:

Maka Yesus keluarlah dari sana, serta berangkat ke jajahan Tsur dan Sidon. Maa adalah seorang perempuan Kanani datang dari jajahan itu, serta berteriak, katanya: Ya Tuhan ya anak Daud, asihanilah hamba, karena anak hamba yang perempuan dirasuk setan terlalu sangat.
Tetapi sepatah katapun tiada dijawab oleh Yesus kepada perempuan itu. Maka datanglah muridnya meminta kepadanya, serta berkata: Suruhlah perempuan itu pergi, karena ia berteriak-teriak di belakang kita. Maka jawab Yesus, katanya: Tidaklah aku disuruhkan kepada yang lain hanya kepada segala domba yang sesat dari antara Bani Israil.
Maka datanglah perempuan itu sujud menyembah kepada dia, katanya: Ya Tuhan, tolonglah hamba!
tetapi jawab Yesus katanya: Tiada patut diambil roh dari anak-anak, lalu menyampaikan kepada anjing.

Source: Al Qur'an terjemahan Bahasa Indonesia - Khadim al Haramain asy Syarifain (Pelayan kedua tanah suci) Raja Fahd ibn'Abd al'Aziz Al Sa'ud hal 38.

Perlunya Al Qur'an di turunkan

Sewaktu Al Qur'an di turunkan pada empat belas abad yang lalu, di dunia sudah terdapat banyak agama dan banyak kitab-kitab yang di anggap suci oleh pengikut-pengikutnya. Disekitar negara Arab terdapatlah orang-orang yang percaya kepada Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru.

Perlunya Al Qur'an di turunkan


Sewaktu Al Qur'an di turunkan pada empat belas abad yang lalu, di dunia sudah terdapat banyak agama dan banyak kitab-kitab yang di anggap suci oleh pengikut-pengikutnya. Disekitar negara Arab terdapatlah orang-orang yang percaya kepada Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru.
Banyak orang-orang Arab yang menjadi Nasrani atau condong ke arah agama Nasrani. Diantara orang-orang Arab itu ada juga yang memeluk Agama Yahudi. Diantaranya mereka yang memeluk Agama Yahudi itu adalah penduduk Madinah sendiri. Di Mekkah sendiri disamping budak-budak yang beragama Nasrani terdapat juga orang-orang Mekkah yang condong ke Agama Nasrani.

Waraqah bin Naufal paman dari Khadijah, istri pertama Nabi Muhammad s.a.w. juga memeluk Agama Nasrani. Ia faham bahasa Ibrani dan menterjemahkan Injil dari bahasa Ibrani ke bahasa Arab.

Di sebelah ujung lain negeri Arab, hiduplah orang-orang Persia yang juga mempercayai seorang nabi dan sebuah Kitab Suci. Sekalipun Kitab Zend Avesta telah mengalami perubahan-perubahan oleh tangan manusia, tetapi kitab ini masih di anggap suci oleh beratus ribu pengikutnya dan suatu negeri yang kuat menjadi pendukungnya.

Adapun di India, kitab Weda di pandang Suci beribu-ribu tahun lamanya. Disana ada juga Kitab Gita dari Shri Krisna dan ajaran Budha. Agama Kong Hu Cu menguasai negeri Tiongkok, tetapi pengaruh Budha makin hari makin luas di Negeri tersebut.


Dengan adanya Kitab-kitab yang di pandang Suci oleh pengikut-pengikutnya dan ajaran-ajaran tersebut, Apakah Dunia ini memerlukan Kitab Suci yang lain lagi? Inilah sebenarnya satu pertanyaan yanga da pada setiap orang yang mempelajari Al Qur'an. Jawabannya bisa di berikan dalam beberapa bentuk.


  1. Pertama, apakah adanya berbagai agama itu tidak menjadi alasan yang cukup untuk datangnya agama yang baru lagi untuk semua ?

  2. Kedua, apakah akal manusia itu tidak mengalami evolusi sebagaimana badannya? Dan karena evolusi fisik itu akhirnya mencapai bentuk yang sempurna, apakah evolusi mental dan rohani itu tidak menuju e arah kesempurnaan yang terakhir, yang sebenarnya merupakan tujuan daripada adanya manusia itu ?

  3. Ketiga, apakah agama-agama yang dulu itu di anggap ajaran-ajaran yang dibawanya itu adalah ajara-ajaran terakhir? Apakah mereka tidak mengharapkan perkembangan kerohanian yang terus menerus? Apakah mereka tidak selalu memberitahukan kepada pengikut-pengikutnya tentang akan datangnya utusan terakhir yang akan menyatukan seluruh umat manusia dan membawa mereka kearah tujuan yang terakhir?


Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas adalah merupakan jawaban yang mengharuskan supaya Al Qur'an diturunkan, sekalipun sudah ada kitab-kitab yang dianggap suci oleh umat-umat yang dahulu.

Di bawah ini akan di coba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu satu demi satu.

Bukanlah perbedaan antara agama yang satu dengan lainnya itu sudah cukup menjadi alasan akan perlu datangnya ajaran agama baru lagi, sebagai agama terakhir ?


  1. Nabi Isa a.s di utus untuk suatu kamu tertentu.
  2. Kitab Weda adalah kitab untuk sesuatu golongan.
  3. Tuhan adalah Esa.
  4. Agama adalah bukan hasil pemikiran umat manusia
  5. Mengapa hukum-hukum dari agama-agama itu berbeda?

Al Qur'an terjemahan Bahasa Indonesia - Khadim al Haramain asy Syarifain (Pelayan kedua tanah suci) Raja Fahd ibn'Abd al'Aziz Al Sa'ud hal. 37.

Tafsir Mu'tazillah & Syi'ah

Aliran Mu'tazilah. Banyak sekali, bahkan ratusan kitab-kitab tafsir yang di karang menurut aliran ini sesuai dengan dasar-dasar pokok aliran Mu'tazilah. Tetapi yang sampai kepada generasi sekarang amat sedikit sekali jumlah-nya

Tafsir Mu'tazillah & Syi'ah


Disamping Tafsir-tafsir yang ada, masih di dapati kitab-kitab Tafsir

  1. Aliran Mu'tazilah. Banyak sekali, bahkan ratusan kitab-kitab tafsir yang di karang menurut aliran ini sesuai dengan dasar-dasar pokok aliran Mu'tazilah. Tetapi yang sampai kepada generasi sekarang amat sedikit sekali jumlah-nya, seperti Kitab Majaalisusy Syariif al Murtadha bernapaskan aliran Syi'ah Mu'tazilah. Kumpulan tafsir ini sekarang telah di cetak di Mesir dengan nama Amali Al Murtadha.

  2. Tafsir Aliran Syi'ah. Kaum Syi'ah banyak menghasilkan kitab-kitab tafsir. Penafsiran mereka di tujukan kepada pengagunggan Ali dan keturunannya, penghinaan terhadap Abu Bakar, Utsman dan sebagainya. Mereka berani melakukan ta'wil yang jauh sekali untuk kepentingan aliran mereka.

Source: Al Qur'an terjemahan Bahasa Indonesia - Khadim al Haramain asy Syarifain (Pelayan kedua tanah suci) Raja Fahd ibn'Abd al'Aziz Al Sa'ud hal 28.

Arti Kafir

Banyak dari kalangan Non-Muslim mengartikan kata "KAFIR" adalah Penghinaan, Tidak berTuhan dll... Arti sesungguhnya kata Kafir adalah "Orang yang belum terbuka terhadap Islam, Orang yang tidak mengakui Al Qur'an adalah Kitab terakhir dan orang yang belum mengakui Nabi Muhammad s.a.w."

Arti Kafir sesungguhnya



Banyak dari kalangan Non-Muslim mengartikan kata "KAFIR" adalah Penghinaan, Tidak berTuhan dll... Arti sesungguhnya kata Kafir adalah "Orang yang belum terbuka terhadap Islam, Orang yang tidak mengakui Al Qur'an adalah Kitab terakhir dan orang yang belum mengakui Nabi Muhammad s.a.w. "


Source: CeramahUstadAbdulSomad-TaffaquhYouTube

Lama Waktu Al Qur'an di turunkan

Al Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 Tahun 2 Bulan 22 Hari atau 23 Tahun 13 Tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah. Sewaktu Al Qur'an di turunkan pada empat belas abad yang lalu, di dunia sudah terdapat banyak agama dan banyak kitab-kitab

Lama Waktu Al Qur'an di turunkan

Al Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa:

22 Tahun 2 Bulan 22 Hari atau 23 Tahun

13 Tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah

Surat dalam Al Qur'an

Jumlah surat yang terdapat dalam Al Qur'an ada 114. Nama-namanya dan batas-batas tiap-tiap surat, susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang di tetapkan dan diajarkan oleh Rosululloh sendiri (tauqifi). Sebagian dari surat-surat al Qur'an mempunyai lebih dari satu nama, sebagaimana yang akan di terangkan dalam muqaddimah tiap-tiap surat.

Surat-Surat dalam Al Qur'an



Jumlah surat yang terdapat dalam Al Qur'an ada 114

Nama-namanya dan batas-batas tiap-tiap surat, susunan ayat-ayatnya adalah menurut ketentuan yang di tetapkan dan diajarkan oleh Rosululloh sendiri (tauqifi).

Sebagian dari surat-surat al Qur'an mempunyai lebih dari satu nama, sebagaimana yang akan di terangkan dalam muqaddimah tiap-tiap surat.

Surat-surat yang ada dalam Al Qur'an di tinjau dari segi panjang dan pendeknya terbagi atas 4 bagian, yaitu:

  1. ASSAB'UTHTHIWAAL, dimaksudkan tujuh surat panjang. Yaitu: Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa', Al A'raaf, Al An'aam, Al Maa-idah dan Yunus.

  2. AL MIUUN, dimaksudkan surat-surat yang berisi kira-kira seratus ayat lebih, seperti: Hud, Yusuf, Mu'min dsb.

  3. AL MATSAANI, dimaksudkan surat-surat yang bersisi kurang sedikit dari seratus ayat, seperti: Al Anfaal, Al Hijr dsb.

  4. AL MUFASHSHAL, dimaksudkan surat-surat pendek, seperti: Adh dhuha, Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas dsb.

Source: Al Qur'an terjemahan Bahasa Indonesia - Khadim al Haramain asy Syarifain (Pelayan kedua tanah suci) Raja Fahd ibn'Abd al'Aziz Al Sa'ud.

Rukun Iman

Iman kepada Allah SWT. Iman kepada malaikat Allah SWT. Iman kepada kitab-kitab Allah SWT. Iman kepada Rosul-rosul Allah SWT. Iman kepada hari kiamat. Iman kepada Qadha dan Qadar.

Rukun Iman


  1. Iman kepada Allah SWT
  2. Iman kepada malaikat Allah SWT
  3. Iman kepada kitab-kitab Allah SWT
  4. Iman kepada Rosul-rosul Allah SWT
  5. Iman kepada hari kiamat
  6. Iman kepada Qadha dan Qadar

Perbedaan Ayat Makiyyah dan Madaniyyah

Ayat-ayat Makkiyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat yang terdahulu

Perbedaan ayat-ayat Makkiyyah dengan ayat-ayat Madaniyyah


  1. Ayat-ayat Makkiyyah pada umumnya pendek-pendek sedang ayat-ayat Madaniyyah panjang-panjang. Surat Madaniyyah yang merupakan 11/30 dari isi Al Qur'an ayat-ayatnya berjumlah 1.456, sedangkan surat Makkiyyah yang merupakan 19/30 dari isi Al Qur'an jumlah ayat-ayatnya 4.780 ayat. Juz 28 seluruhnya Madaniyyah kecuali QS. 60 Mumtahinah, ayat-ayatnya berjumlah 137, sedang Juz 29 ialah Makkiyah kecuali QS. 76 Ad-dahr, ayat-ayatnya berjumlah 41. Surat Al Anfaal dan Surat Asy Syu'araa masing-masing merupakan setengah juz tetapi yang pertama Madaniyyah dengan bilangan ayat sebanyak 75, sedang yang kedua Makiyah dengan ayat nya yang berjumlah 227.

  2. Dalam surat-surat Madaniyyah terdapat perkataan "ya ayyuhalladzina aamanu" dan sedikit sekali terdapat perkataan "yaa ayyuhannaas:, sedang dalam surat Makiyah adalah sebaliknya.

  3. Ayat-ayat Makkiyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat yang terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti. Sedang Madaniyyah mengandung hukum-hukum, baik yang berhubungan dengan hukum adat atau hukum-hukum duniawi, seperti hukum kemasyarakatan, hukum ketatanegaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antar agama dan lain-lain.


Source:Al Qur'an terjemahan Bahasa Indonesia - Khadim al Haramain asy Syarifain (Pelayan kedua tanah suci) Raja Fahd ibn'Abd al'Aziz Al Sa'ud.

Ayat-ayat Makkiyah dan Ayat-ayat Madaniyah

Ayat-ayat Makkiyah meliputi 19/30 dari isi Al Qur'an terdiri atas 86 surat, sedang ayat-ayat Madaniyyah meliputi 11/30 dari isi Al Qur'an terdiri atas 28 surat



Ayat-ayat Makkiyah meliputi 19/30 dari isi Al Qur'an terdiri atas 86 surat, sedang ayat-ayat Madaniyyah meliputi 11/30 dari isi Al Qur'an terdiri atas 28 surat



Ditinjau dari segi masa turunnya, maka Al Qur'an itu di bagi atas dua golongan:


  1. Ayat-ayat yang diturunkan di Mekah atau sebelum Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah di namakan ayat-ayat Makkiyah.

  2. Ayat-ayat yang diturunkan di Madinah atau sesudah Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah dinamakan ayat-ayat Madaniyyah.

Ayat-ayat Makkiyah meliputi 19/30 dari isi Al Qur'an terdiri atas 86 surat, sedang ayat-ayat Madaniyyah meliputi 11/30 dari isi Al Qur'an terdiri atas 28 surat.


Source: Al Qur'an terjemahan Bahasa Indonesia - Khadim al Haramain asy Syarifain (Pelayan kedua tanah suci) Raja Fahd ibn'Abd al'Aziz Al Sa'ud.

Cara - cara Al Qur'an di wahyuhkan

Cara - cara al Qur'an di wahyuhkan


Nabi Muhammad s.a.w. dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan, diantaranya:
  1. Malaikat memasukkan wahyu itu kedalam hatinya. dalam hal ini Nabi s.a.w. tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu sudah berada sja dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan" Ruhul qudus mewahyukan kedalam kalbuku" (lihat surat 42 Asy Syuura ayat 51).


  2. QS. 42 Asy-Syūrā : 51

    وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

    Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana.


  3. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.


  4. Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zain bin Tsabit: "Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa".

  5. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan No. 2, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini tersebut dalam Al Qur'an Surat 53 An Najm ayat 13 & 14.

  6. QS. 53 An-Najm : 13

    وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ

    Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,



    QS. 53 An-Najm : 14
    عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ

    (yaitu) di Sidratilmuntaha.


Source: Al Qur'an terjemahan Bahasa Indonesia - Khadim al Haramain asy Syarifain (Pelayan kedua tanah suci) Raja Fahd ibn'Abd al'Aziz Al Sa'ud.

Apakah Al Qur'an itu

Qur'an" menurut pendapat yang paling kuat seperti yang di kemukkan Dr. Subhi Al Salih berarti "bacaan", asal kata qara'a. Kata Al Qur'an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf'ul yaitu maqru (dibaca)

Arti kata Qur'an dan apa yang di maksud dengan Al Qur'an.


"Qur'an" menurut pendapat yang paling kuat seperti yang di kemukakan Dr. Subhi Al Salih berarti "bacaan", asal kata qara'a. Kata Al Qur'an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf'ul yaitu maqru (dibaca).


Di dalam Al Qur'an sendiri ada pemakaian kata "Qur'an" dalam arti demikian sebagai tersebut dalam QS. 75 - Al Qiyaamah : 17 & 18


QS. 75 Al-Qiyāmah : 17

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ

Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya.

75.Al-Qiyāmah : 18

فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.

Kemudian di pakai kata "Qur'an" itu untuk Al Qur'an yang di kenal sekarang. Adapun definisi Al Qur'an ialah: "Kalam Allah s.w.t yang merupakan mu'jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad s.a.w, dan yang ditulis di mushaf dan di riwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah".

Dengan definisi ini, Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-nabi selain Nabi Muhammad s.a.w., tidak dinamakan Al Qur'an seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s, atau Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s.

Source: Al Qur'an terjemahan Bahasa Indonesia - Khadim al Haramain asy Syarifain (Pelayan kedua tanah suci) Raja Fahd ibn'Abd al'Aziz Al Sa'ud.

Doa yang di Terima

Orang-orang yang dapat di terima doanya antara lain adalah orang-orang yang sllau tepat dalam menunaikan sholat wajib

Doa yang diterima


Siapa saja yang mudah diterima do'a nya
  1. Orang yang slalu shalat wajib berjama'ah di masjid
  2. Orang yang berpuasa
  3. Orang tua yang berdo'a untuk anaknya
  4. Orang yang teraniaya

Waktu Terbaik untuk Berdoa

Waktu Terbaik untuk ber'doa


Momentum terbaik untuk berdo'a
  1. Saat adzan hingga iqomah
  2. Ketika sujud
  3. Sesaat setelah melaksanakan sholat fardhu
  4. Pada sepertiga malam terakhir setiap malam
  5. Ketika Khatib duduk antara dua khutbah shalat Jum'ah sampai selesai
  6. Ketika berbuka puasa
  7. Ketika dalam perjalanan
  8. Ketika turun hujan

Arti Islam

Arti Islam


Arti Kata ISLAM

Islam memiliki definisi yang luas. Kata Islam berasal dari bahasa Arab, aslama. Jika di jabarkan, maka secara bahasa kata aslama memiliki makna sebagai berikut:

  1. Islam berarti taat, patuh, dan berserah diri kepada Allah SWT
  2. Islam adalah selamat, artinya Islam  merupakan pedoman atau petunjuk untuk mendapatkan keselamatan hidup, baik di dunia maupun kelak di akhirat.
  3. Islam adalah kedamaian dan kasih sayang. Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian dan kasih sayang kepada seluruh umat manusia tanpa memandang warna kulit, agama, hingga status sosial. Di dalam Islam, tidak di kenal istilah kasta, Semua orang sama di mata Allah SWT, yang membedakan hanya ketaqwaannya.

Rukun Islam

Rukun Islam


  1. Mengikhrarkan syahadat
  2. Mendirikan sholat wajib 5 waktu
  3. Mengeluarkan Zakat
  4. Menunaikan Puasa
  5. Melaksanaan Ibadah Hajji

QS 1. Al Fatihah

QS 1. Al Fatihah



Makkiyah, 7 ayat
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ 
 
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Pemilik hari pembalasan.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus,

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.